ANTROPOLOGI TASAWUF
Abdul Kadir Riyadi
LP3ES
2014
Abdul Kadir Riyadi
LP3ES
2014
Banyak definisi tentang tasawuf dibuat para ahli, tetapi ada beberapa alasan bagi kita untuk merujuk kepada pendapat Ibn ‘ Arabi. Ibn ‘ Arabi adalah Sang Guru Teragung ( al – syaikh al – akbar ). Sejarah Islam banyak diwarnai oleh pandangan dan teladan kaum Sufi dari berbagai zaman dan aliran. Tetapi semua pandangan itu dapat dimuarakan kepada pemikiran dan rumusan Ibn ‘ Arabi. Kenapa ? karena Ibn ‘ Arabi adalah ‘ arif ( gnostic ) par excellence. Ibn ‘ Arabi lah orang yang merumuskan secara ensiklopedia semua aspek tasawuf, dalam suatu Bahasa universal yang bersifat logis dan analogis sehingga accessible bagi setiap orang yang ingin memahaminya. Boleh jadi, dalam peringkat puncaknya, tasawuf bersifat tak terperikan ( ineffable). Tetapi di tangan Ibn ‘Arabi, kesemuanya itu mendapatkan deskripsi yang sistematis dan komunikatif, bahkan verifiable. Meski tak pelak rumit juga karena kedalamanya, Ibn ‘ Arabi berhasil mengatasi Bahasa enkriptik kaum sufi, sekaligus memberikan dasar – dasar filosofis bagi praktiknya, sehingga menjadikan peraihan pengalaman puncak tasawuf tak lagi tertutup bagi para murid yang mungkin beloum mencapai tingkat tersebut.
Apakah makna tasawuf bagi Ibn ‘ Arabi ? Tasawuf bagi Sang Syaikh adalah berarti proses mengaktualkan potensi akhlak Allah yang ada di dalam diri kita , dan menjadikannya akhlak kita “ ( al – takhalluq bi akhlaq Allah ). Manusia sebagai pembawa ruh – Nya, yang dicipta atas fitrah keilahian dan dengan demikian, kepenuhan dan kebahagiaan hidupnya bukan hanya di akhirat, melainkan juga dunia tergantung pada keberhasilannya mengaktualkan potensi keilahian – Nya itu. Pencipta dan peniupan ruh, yang dilanjutkan dengan penempatan manusia di dunia ( dari kata dunya, yang berarti “ tempat rendah “ ) adalah proses melewati “ busur turun “ ( qaws nuzul ) dari Allah sebagai awal ( mabda’ ) sedangkan upaya menanamkan akhlak Allah adlah bagian dari perjalanan kembali kepada Allah melewati “ busur naik “ ( qaws su ‘ud ).
Selanjutnya, dalam Bahasa Ibn ‘ Arabi, berakhlak dengan aklahk Allah identic dengan menanamkan asma’ ( sifat )- Nya di dalam diri kita. Dengan kata lain, menjadiukan akhlak kita berakar pada akhlak – Nya. Ibn ‘ Arabi segera melihat bahwa kesamaan kata dasal Khulq ( bentuk tunggal akhlak ) dengan kata khalq ( ciptaan ) menunjukkan bahwa sesungguhnya potensi akhlak Tuhan sudah tertanam dan menjadi bawaan ( fitrah/khalq) manusia – betapa pun masih potensial. Syaikh menyebutnya sebagai kesiapan ( jibillah, disposisi )’. Dengan demikian ,bertasawuf menurut Sang Syaikh adalah mengembangkan atau mengaktualisasikan potensi akhlak keilahian yang ada pada ciptaan yang bernama makhluk manusia dalam kehidupan aktualnya. Proses menuju hidup berakhlak dengan akhlak Allah , itulah tasawuf , “ .
TIGA KELOMPOK MANUSIA
Sayid Haidar ‘ Amuli seorang pengikut yang juga memopulerkan pikiran Ibn ‘Arabi lebih lanjut memaparkan tahpan dalam perjalanan tasawuf ( ruhaniah ) dalam menangkap hakikat ( pengetahuan sejati tentang ) keberadaan dan membaginya ke dalam tiga tingkatan, yang masing masing diwakili oleh kelompok orang dengan tingkatan spiritual tertentu.
Kelompok pertama adalah orang – orang kebanyakan termasuk didlamnya adalah orang orang yang hanya menggunakan akalnya saja. Yang paling rendah adalah orang yang tak bisa melihat sesuatu yang lain kecuali dunia kasat mata ini. Bagi mereka, taka da sesuatu di baliknya. Masih dalam kelompok orang awam ini, terdapat sekelompok orang yang bisa melihat bahwa di balik dunia fenomenal yang kasat mata ini sesungguhnya ada sesuatu Zat Yang Mutlak, yang disebut Tuhan. Tetapi, bagi kelompok ini, Tuhan tampil sebagai zat yang ( semata – mata ) transenden atau terpisah dari ciptaan – Nya. Dalam pandangan ini, taka da hubungan lain antara Tuhan dn ciptaanya kecuali hubungan eksternal seperti penciptaan dan dominasi Allah atas ciptaan – Nya. Mereka inilah “ manusia – manusia lahir “.
Kelompok kedua, yang sudah lebih tinggi maqamnya dalam perjalanan ruhaniah ini adalah khawashs, yakni orang yang telah menggunakan intuisi mistikalnya, atau dzaw al – ‘ain, yang telah berhasil mencapai tingkat fana’ yakni kesirnaan diri di dalam Allah SWT. Bersama dengan itu, mereka pun tak lagi melihat alam semesta ini. Di “ mata “ mereka, yang ada hanya Allah. Tak ada diri mereka, tak ada pula ciptaan – ciptaan – Nya yang lain. Yang mereka lihat hanyalah ‘’ ke – Tunggal – an, “ hanya Allah. Namun, ketika orang – orang ini kembali dari ke – fana’ – annya karena fana’ adalah satu diantara berbagai keadaan ruhaniah yang bersifat sementara saja maka mereka kembali melihat kejamakan ciptaan – ciptaan – Nya. Hanya, kali ini mereka melihat segala kejamakan ini sebagai ilusi, atau maya. Dalam pandangan mereka, dunia fenomenal itu tak memiliki nilai ontologis ( kewujudan ) karena sejatinya kesemuannya itu tak real. Objek – objek eksternal itu sesungguhnya tak “ wujud “ dalam makna sejati kata itu.
Daloam pandangan kelompok tiga yang telah masuk ke dalam yang elite dari para elite atau orang – orang yang menggunakan akal dan intuisinya ini, hubungan antara Allah dan ciptaan – Nya mengambil bentuk ke – Tunggal – an dalam kejamakan. Orang – orang yang telah mengalami “ tinggal – tetap “ (baqa) dalam Allah ini mampu melihat Allah dalam ciptaan- Nya. Mereka dapat melihat, baik cermin maupun bayangan yang terpantul di dalamnya. Dengan kata lain, Allah dan ciptaan – Nya secara bergantian bertindak sebagai cermin dan bayangan. Satu – satunya “ wujud “ dalam hal ini harus ditulis sebagai “ Wujud “ adalah sekaligus Allah dan ciptraan – Nya, Sang Mutlak dan dunia fenomenal, serta ke – Tunggal- an murni dari hakikat puncak. Tak pula penglihatan akan yang Tunggal menghalangi mereka dari menangkap kejamakan.
Sebaliknya, keduanya melengkapi satu sama lain dalam mengungkapkan sktruktur hakikat yang sebenarnya. Karena keduanya adalah dua aspek daei hakikat yang sama. Ke – Tunggal – an menampilkan aspek “ perluasan konkret “ ( perluasan dalam bentuk kasat mata ) dari Yang Mutlak itu. Orang – orang yang telah mencapai maqamnya disebut juga sebagai “ yang memiliki dua mata . “ yang satu melihat ke – Tunggal – an dan yang lain melihat kejamakan. Proses penampakan ke – Tunggal – an yang pada awalnya tak terbedakan ke dalam berbagai bentuk ini biasa disebut sebagai “ pengejawantahan diri “ atau manifestasi diri dari Sang Wujud ( Allah ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar