Selasa, 02 April 2019

HUKUM PENALARAN

A. Aspek Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

    Aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang akan dijabarkan untuk mempersiapkan sebuah kerangka diskusi untuk menelaah model - model penalaran, baik dalam konteks hukum - hukum penalaran maupun penalaran hukum. Aspek latar belakang pencantuman dalam sumbu - sumbu skematis dari setiap model penalaran :
  1. Idealisme, Dualisme, dan Materialisme
  2. Intuisionisme, Rasionalisme, dan Empirisme
  3. Idealisme - etis, Deontologisme - etis, dan Teleologisme - etis.
   Dengan demikian , aspek - aspek yang dikemukakan memberikan semacam " pertanggungjawaban" atas penempatan sumbu - sumbu skema bersudut 90 derajat tersebut.


ASPEK ONTOLOGIS

  Aspek Ontologis antara lain mempersoalkan apa yang realitas. Tampak pertanyaan Ontologis mengundang perhatian dan bahkan ia telah menandai kelahiran pertama filsafat, yang diawali dari kontemplatif Thales ( 624 - 546 SM ) tentang hakikat alam semesta. Ada yang melihat realitas sebagai materi, sementara yang lain melihat sebagai ide ( gagasan ). Pandangan monistis hanya memilih salah satu dari alternatif di atas,, ditentang oleh aliran dualisme, yang mengatakan hakikat realitas justru keduannya sekaligus.

  Materialisme berpendapat bahwa hakikat segala sesuatu yang " ada " itu adalah materi. Pandangan dalam pemikiran " Atomisme " dari Demokritos ( 460 - 370 SM ). Menurutnya, atom lah wujud materi terkecil. Apa yang ada (materi) hanya mungkin  muncul dari yang ada (materi juga). Tidak mungkin sesuatu yang tidak eksis (nonmateri) dapat menghadirkan sesuatu materi. Unsur terkecil materi menempati ruang kosong, dan karena itu atom - atom terus bergerak, bertabrakan, dan menciptakan sistem gerakan (mekanisme) yang dikenal sebagai hukum alam (law of nature).
Dalam filsafat Timur , Materialisme telah menjadi dasar falsafah yang berpengaruh, seperti charvakah di India pada abad ke - 7 SM. Materialisme berkembang bagai versi pemikiran, seperti Materialisme - rasionalitis, Materialisme - parsial, Materialisme - antropologis, Materialisme- dialektis, atau Materialisme - historis. Pandangan yang bertolak belakang dari Materialisme adalah Idealisme.

Konsep idelisme tergolong sulit untuk dijelaskan. Ada banyak pembedaan Idealisme yang tidak relevan untuk satu per satu. Nicholas Rescher membagi menjadi dua kelompok, yaitu :
  1. Causal idealism : Segala sesuatu lahir dari aktivitas mental yang tunduk pada hukum kausalitas.
  2. Supervenience Idealism : Adanya aktivitas mental serupa, hanya saja tidak tunduk pada hukum sebab - akibat, melainkan pada ketergantungan eksistensial lainnya.

Plato ( 427 - 347 SM ) adalah filsuf yang menjelaskan secra sederhana aliran berpikir Idelisme. Ia menyatakan, materi itu bias saja berubah atau bahkan musnah, tetapi ide tentang materi tidak hilang. Plato lebih dipandang sebagi pengmuka pandangan Dualisme.

ASPEK EPISTEMOLOGIS
Manusia dapat mengembangkan pengetahuannya karena memiliki dua modal utama, yaitu Bahasa yang komunikatif dan kemampuan berpikir kerangka.
Penalaran [reasoning ( Inggris ), ratiocinium ( Latin) ] dimaknai oleh Lorens Bagus dalam tiga penghertian :
  1.  Proses menarik kesimpulan dari pernyataan - pernyataan
  2.  Penerapan logika dan pola pemikiran abstrak dalam memecahkan masalah atau tindakan perencanaan
  3.  Kemampuan untuk mengetahui beberapa hal tanpa bantuan langsung persepsi inderawi atau pengalaman langsung.
Penalaran pada hakikat digunakan pada semua lapangan kehidupan manusia. Penalaran mendapatkan aksentuasi yang sangat tinggi, terutama pada lapangan ilmiah. Bahasa diperlukan karena objek yang dinalar adalah simbol - simbol yang lahir sebagai produk kebudayaan manusia. Objek Bahasa adalah simbol - simbol komunikasi. Penalaran yang mengandalkan rasio itupun harus berkolaborasi dengan modalitas lainnya seperti intuisi dan empiri. Empirisme Berasal dari kata empiric, yang berarti pengalaman (empeiria). Empirisme adalah aliran dasar dalam epistemologi yang menganggap satu satunya pengetahuan bagi manusia adalah pengalaman, melalui observasi inderawi.

ASPEK AKSIOLOGI
Dalam aspek aksiologi , diasumsikan bahwa manusia adalah makhluk yang independen, berkendak bebas. Sebab, hanya dengan kebebasan itulah terdapat pertanggungjawaban. Banyak aliran pemikiran yang menelaah aspek aksiologis dari tindakan manusia. Aspek aksiologis dibagi menjadi tiga kelompok pemikiran, yaitu :
  1. Idealisme - etis             : Aspek aksiologis yang meyakini bahwa ukuran baik - buruk dalam bertindak diterapkan oleh nilai - nilai spiritual
  2. Deontologisme - etis    : Deontologi diambil dari kata Yunani " deon ", yang berarti apa yang harus dilakukan atau kewajiban. Deontologi menilai baik buruk suatu tindakan dari sudut tindakan itu sendiri.
  3. Teleologisme - etis 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Argumentasi Sengketa Pilpres 2019

Dasar dasar BPN mengajukan gugatan ke MK 1.  Penyalahgunaan Anggaran Belanja Negara dan Program Pemerintah       Kubu Prabo...