ISLAM untuk berbagai ASPEK Kehidupan
H. MAHMUD AZIZ SIREGAR, MA.
PT. Tiara Wacana Yogya
1999
H. MAHMUD AZIZ SIREGAR, MA.
PT. Tiara Wacana Yogya
1999
BAB I
PENDAHULUAN
AQIDAH atau keimanan merupakan “ ikatan perjanjian “ anatara manusia dengan Tuhannya, bahwa manusia itu rela mentaati – Nya. Ikatan perjanjian itu telah disepakati oleh manusia sejak berbentuk janin dalam Rahim ibunya, sebagiamana telah dilukiskan dengan sangat mengesankan dalam AL – QUR’AN ( Q. S. al – A’ raf : 172 )
Mengomentari ayat ini , Abdullah Yusuf Ali, seorang mufassir modern, mengatakan bahwa ikatan perjanjian seorang manusia dengan Tuhannya demikian lengkap sejak dalam kandungan, bahwa mereka telah mengakui Allah sebagai pencipta alam semesta, sehingga manusia berkewajiban menyembah – Nya.
Keimanan Perlu Dicerahkan ?
Kesadaran Ilahiyah ( kesadaran yang terus menerus terhadap makna iakatan perjanjian dengan Tuhan ) itu senantiasa memerlukan pencerahan disebabkan, paling tidak tiga pertimbangan :
1. Keimanan kepada Allah merupakan kodrat atau fitrah manusia
2. Komitmen seseorang pada ikatan perjanjian ( aqiqah ) itu merupakan kesadaran Ilahiyah yang harus dijaga dan ditegakkan dalam situasi apapun, dan profesi apapun yang digelutinya, sebab itulah yang memberikan semangat bagi kehidupan dan kreativitas peningkatan kualitasnya.
3. Masyarakat beragama secara teoritis dan seharusnya adalah pendukung aqidah dan keimanan. Namun dalam mengaplikasi aqidah tersebut dalam bentuk amal dan moralitas, disadari atau tidak, banyak manusia, termasuk masyarakat modern, yang telah menjadi penghalangnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Sejak manusia diciptakan, Allah Swt telah menurunkan bantuan dan bimbhingan yang merupakan pelita bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Bimbingan itu adalah akal dan agama yang mengajarkan manusia untuk mengenal dirinya, mengenal penciptanya, dan makhluk lain di luarnya. Hal ini dapat diketahui berdasarkan kisah Adam dan Hawa, di antaranya dalam Kitab Al – Qur’an surat al – A’raf 125.
Sesudah Adam dan Hawa turun ke bumi ini kemudian manusia berkembang dan tersebar, Allah mengutus para Nabi dan Rasul silih berganti, membawa ajaran wahyu yang mengingatkan kembali ajaran yang pernah diturunkan kepada Adam dan Hawa. Di antaranya dijelaskan dalam surat al – Baqarah ayat 213 dan surat as – Syura ayat 13. Nabi dan Rasul yang paling akhir diutus oleh Allah Swt adalah Muhammad Saw., sebagaimana disebut dalam Q. S. al – Ahzab ; 40 : “ Dan Allah mengutus Nabi Muhammd Saw, sebagi Rasul terakhir untuk semua umat manusia “.
Namun, di zaman setelah agama diturunkan, masih banyak juga pemikir yang tidak mau menjadikan agama sebagai pelita kehidupannya. Di antara mereka ada yang secara lahir menganut agama, tetapi agama bagi mereka hanyalah sebagai sejarah dan bukan sebagai sesuatu keyakinan yang dijadikan sebagai pandangan hidup. Di samping itu masih terdapat manusia atau masyarakat yang mengenal alam atau apa yang ada di alam, dan terhadap sesuatu yang dianggapnya ada di luar alam nyata, dengan menggunakan praduga, perasaan, cerita – cerita masa lalu, dan sedikit sekali diantaranya yang belajar dari pengalaman dan pengaktifan akal pikiran. Sumber pengetahuan bagi muslim, bukanlah sekedar pengakuan terhadap Islam sebagai agamanya, atau karena ia berasal dari keturunan keluarga Muslim. Akan tetapi Muslim yang dimaksudkan ialah orang yang membenarkan ajaran Nabi Muhammad Saw., menerimanya dengan pengetahuan yang benar, karena telah memahaminya sebagai kebenaran yang datang dari Allah Swt.
Untuk memberikan penjelasan tentang pandangan hidup seorang Muslim, maka topik – topik pembahasan yang dipilih meliputi: Arti, Nilai dan Tujuan Hidup Seorang Muslim ; serta Langkah dan Perbuatan Seorang Muslim diukur dari Ajaran Islam.
Sesudah Adam dan Hawa turun ke bumi ini kemudian manusia berkembang dan tersebar, Allah mengutus para Nabi dan Rasul silih berganti, membawa ajaran wahyu yang mengingatkan kembali ajaran yang pernah diturunkan kepada Adam dan Hawa. Di antaranya dijelaskan dalam surat al – Baqarah ayat 213 dan surat as – Syura ayat 13. Nabi dan Rasul yang paling akhir diutus oleh Allah Swt adalah Muhammad Saw., sebagaimana disebut dalam Q. S. al – Ahzab ; 40 : “ Dan Allah mengutus Nabi Muhammd Saw, sebagi Rasul terakhir untuk semua umat manusia “.
Namun, di zaman setelah agama diturunkan, masih banyak juga pemikir yang tidak mau menjadikan agama sebagai pelita kehidupannya. Di antara mereka ada yang secara lahir menganut agama, tetapi agama bagi mereka hanyalah sebagai sejarah dan bukan sebagai sesuatu keyakinan yang dijadikan sebagai pandangan hidup. Di samping itu masih terdapat manusia atau masyarakat yang mengenal alam atau apa yang ada di alam, dan terhadap sesuatu yang dianggapnya ada di luar alam nyata, dengan menggunakan praduga, perasaan, cerita – cerita masa lalu, dan sedikit sekali diantaranya yang belajar dari pengalaman dan pengaktifan akal pikiran. Sumber pengetahuan bagi muslim, bukanlah sekedar pengakuan terhadap Islam sebagai agamanya, atau karena ia berasal dari keturunan keluarga Muslim. Akan tetapi Muslim yang dimaksudkan ialah orang yang membenarkan ajaran Nabi Muhammad Saw., menerimanya dengan pengetahuan yang benar, karena telah memahaminya sebagai kebenaran yang datang dari Allah Swt.
Untuk memberikan penjelasan tentang pandangan hidup seorang Muslim, maka topik – topik pembahasan yang dipilih meliputi: Arti, Nilai dan Tujuan Hidup Seorang Muslim ; serta Langkah dan Perbuatan Seorang Muslim diukur dari Ajaran Islam.
Memahami Ajaran Islam
a. Islam agama wahyu
Islam sebagai agama wahyu berarti ajarannya bersumber dari pengetahuan dan pemberitahuan Ilahiyah yang tercantum dalam kitab Al – Qur’an dan diperjelas dengan Sunnah Rasul. Sedang yang dimaksud dengan Sunnah Rasul ialah perbuatan, perkataan, dan persetujuan ( taqrir ) yang sudah benar – benar sah datang dari Nabi Muhammad Saw. Dengan demikinan bagi seorang Muslim, ajaran agama Islam itu nilai kebenaran – Nya adalah mutlak dan universal, tidak bergantung pada ruang dan waktu.
Islam sebagai agama wahyu berarti ajarannya bersumber dari pengetahuan dan pemberitahuan Ilahiyah yang tercantum dalam kitab Al – Qur’an dan diperjelas dengan Sunnah Rasul. Sedang yang dimaksud dengan Sunnah Rasul ialah perbuatan, perkataan, dan persetujuan ( taqrir ) yang sudah benar – benar sah datang dari Nabi Muhammad Saw. Dengan demikinan bagi seorang Muslim, ajaran agama Islam itu nilai kebenaran – Nya adalah mutlak dan universal, tidak bergantung pada ruang dan waktu.
b. Islam Membawa Aqidah
Islam membawa ajaran aqidah yaitu segi keyakinan, dituntut bagi seorang Muslim mengimaninya dan membesarkannya tanpa ragu – ragu. Kitrab Al- Qur’an banyak membawa yang harus diakui kebenaranya, karena merupakan Ilahiyah. Aspek aqidah dalam ajaran Islam mengenalkan hanya Allah sebagai Tuhan pencipta alam, bersifat Maha Kuasa, Maha Menentukan, Maaha Adil, Maha Mengatur, dan telah menjadikan manusia sebagai hamba dan makhluk yang harus mengabdi kepada – Nya, dan khalifah yang diberi daya sebagai penakluk dan penguasa di muka bumi.
c. Islam Membawa Syariat
Islam mengandung ajaran syari’at, berarti Islam mengatur berbagai hubungan manusia, dlam hubungannya dengan Tuhan yang disebut dengan ibadah dan dalam hubungannya dengan sesame manusia atau alam lingkungannya yang disebut dengan muamalat. Tujuan memelihara hubungan dengan Tuhan untuk mencapai ridha Allah Swt., dan tujuan memelihara hubungan secara horizontal ialah untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaiaan hidup dunia dan akhirat. Syari’at Islam yang menyangkut dengan ibadah, tatacaranya ditentukan Allah Swt dan diperjelas oleh Rasul- Nya, kita lebih banyak menerima dan berserah kepada ketentuan yang datang. Sedangkan syari’at menyangkut muamalah, kita berpegang pada prinsip : “ segala sesuatu yang ada di luar ibadah pada dasarnya boleh ( mubah ) kecuali apabila dilarang Allah dan Rasul – Nya”. Karena itu ruang ijtihad yaitu penggunaan akal pikiran dalam masalah yang menyangkut muamalah akan lebih luas.
d. Islam Mengandung Ajaran Akhlak
Akhlak adalah system ukuran tentang perbuatan baik atau buruk yang dapat dipahaami dan diambil dari ajaran aqidah islam yang memberi arti dan tujuan hidup bagi seorang Muslim dengan sebenar – benarnya. Maka syari’at Islam menunjukkan arti kebaikan yang mesti dikerjakan atau dianjurkan mengerjakannya, menunjukkan arti buruk yang mesti dijauhi dan sesuatu yang lebih baik di tinggalkan ( wajib, sunnah, mubah, makruh, haram ).
e. Islam dan Kebudayaan
Islam sebagai ajaran wahyu, ajarannya adalah mutlak kebenranya. Kebudayaan adalah hasil karya cipta manusia yang beranekaragam. Setiap Muslim ( yang benar – benar menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya) selalu membudayakan Islamnya dan mengislamkan kebudayaan sesuai dengan tuntutan lingkungan dan zamannya yang selalu tidak sama.
Dengan memahami ajaran agama islam, seorang Muslim mendapatkan pandangan hidup yang menggambarkan arti dan tujuan hidup baginya :
1. Islam sebagai agama samawi yang terakhir, yang berfungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya.
2. Islam sebagai agama dakwah, yaitu agama yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk dilaksanakan dalam kehidupan, yang diperjelaskan dalam sumber ajran – Nya yaitu Al- Qur’an dan Al – Hadis.
3. Ajaran agama islam yang menyangkut keimanan, ibadah, muamalah, bukanlah semata – mata ajaran dogmatic yang mati. Tetapi adalah ajaran yang dapat dianalisis, didukung dengan ilmu yang memberikan tempat bagi pengembangan pikiran ( ijtihad ) seorang Muslim.
4. Sebagai hamba Allah yang beriman terhadap keadilan yang pasti dari Allah, karena dirinya di atas kebenaran
BAB III
KESIMPULAN
Jadi, kepercayaan kepada Allah Swt dan Rasul – Nya sebagaimana tersimpul dalam dua kalimat syahadat memberi kejelasan bagi seseorang terhadap struktur dan makna kehidupannya. Allah adalah pencipta ( Khaliq ). Makhluk, termasuk manusia, adalah yang diciptakan yang wajib menyembah dan beribadah kepada penciptanya. Penegasan keesan dan kemahakuasaan Allah, serta bagaimana cara menyembah – Nya telah diajarkan Rasul melalui risalah yang dibawanya.
Aktivitas penyembahan kepada Allah Swt itu dilembagakan dalam tiang penyangga islam, yaitu shalat, puasa, zakat, dan haji. Namun kesadaran Ilahiyah dan pelaksanaan ibadah akan berperan men “ sakral “ kan segala aktivitas ( amal ) seseorang, baik secara individu maupun secara sosial, menjadi amal shaleh. Jadi, amal shaleh dengan sendirinya menjadi model dari eksistensi manusia itu sendiri.
Ke – Islam – an seseorang dengan demikian melalui proses yang sangat intensif sampai ia menjadi shaleh secara individu dan menjadi pelopor keshalehan ( dakwah bi al – hal ) dalam kehidupan sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar